oleh

Catatan Harian Jurnalis yang Positif Covid-19 Selama Dikarantina (Bagian 4)

RBTVCamkoha-Selama dikarantina di Rumah Sehat Covid-19 Wisma Atlet Jakabaring, kami tidak boleh bertemu dengan sesama pasien. Tujuannya, untuk menghindari paparan lagi. Kalaupun harus keluar itu untuk kepentingan mengambil makanan atau air panas. Tentu saja harus memakai masker.

Saya pun mencoba mencari teman lewat WA. Hitung-hitung untuk menjadi teman bicara di sini sambil berbagi pengalaman. Di tempat saya di karantina ternyata ada tenaga medis yang dirawat. Rata-rata terpapar saat merawat pasien.

Ya, selama Pandemi Covid-19 ini cukup banyak tenaga medis baik dokter atau perawat di Indonesia termasuk di Sumsel yang terpapar. Tugas mereka cukup berat dan beresiko. Meski begitu, para tenaga medis ini tetap bekerja meskipun berhadapan dengan maut.

“Kalau saya sudah tahu, ini rIsiko kerja saya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya tugas dan negara sedang membutuhkan, ya harus tetap bekerja,” kata salah seorang tenaga medis yang dirawat.

Selama ini, lanjut dia, protokol kesehatan sudah dijalankan. Sampai suatu hari, ternyata ada salah satu temannya yang terpapar, sehingga seluruh timnya harus dikarantina.

“Kita dikarantina di RS tempat saya bekerja. Karena kita kontak dengan pasien positif, jadi kami diambil Swab. Tapi ternyata menunggu hasil Swab lama. Akhirnya kami tes rapid. Hasilnya negatif, kami bukan main lega mendengarnya. Karena hasil rapid negatif, kami sepakat untuk pulang dari karantina. Tapi ternyata, dua hari setelah pulang saya baru menerima kabar kalau hasil Swab positif,” ujarnya.

Rasanya, lanjut dia, kaget bukan kepalang. “Saya tidak ada gejala, tapi ternyata positif. Saya mau nangis, tapi saya tidak mau menunjukkan ke keluarga. Pikiran saya satu, jangan sampai keluarga saya ikut terpapar. Biar saya saja, karena memang resiko pekerjaan saya,” ungkapnya.

Diakuinya, masih ada orang yang memiliki stigma negatif terhadap orang yang terpapar Covid-19.

“Ya, adalah tetangga yang takut. Wajar sih, mereka takut tertular karena kan juga punya keluarga. Tapi ada juga tetangga yang peduli yang memberikan donasi untuk saya,” ujarnya.

Ke depan, dia berharap agar angka penularan Covid-19 ini, bisa terus menurun. “Saya juga mengharapkan agar mungkin laboratorium bisa ditambah karena menunggu hasil Swab sangat lama bisa sampai dua minggu. Padahal, di Padang hasil Swab bisa keluar dalam tiga hari. Karena, kalau hasil cepat diketahui, pengobatan akan lebih cepat dan tracking yang kontak dengan pasien positif juga lebih cepat. Sehingga, bisa mengurangi jumlah orang yang terpapar,” harapnya.

Kalau bicara soal hasil Swab, saya juga mengalaminya. Menunggu kabar apakah kita negatif atau positif covid bisa sampai dua minggu. Tak heran, terkadang hasil baru keluar, disaat pasien sudah meninggal dunia. Ketika ditanya ke BBLK, jawabannya antrean untuk pengujian sampel sangat banyak. Saat ini ada sekitar 2 ribu lebih sampel yang harus diperiksa. Apalagi, Sumsel juga menerima sampel dari daerah luar Sumsel seperti Jambi.

Pertanyaannya, jika hasil Swab yang diuji terlalu lama karena banyaknya antrean, apakah masih aman untuk diuji dan tidak terkontaminasi sampel lain. Selain itu, jika menunggu hasil uji Swab sampai dua minggu, membuat penanganan untuk pasien positif lebih butuh waktu.

Bukan tidak mungkin paparan Covid-19 bisa lebih luas karena orang tersebut tidak tahu dia positif atau negatif. Mungkin ini bisa menjadi perhatian bagi kepala daerah, apalagi sebentar lagi Sumsel akan masuk ke era new normal. Semua harus siap, untuk penanganan Covid yang lebih cepat sehingga bisa menekan jumlah penularan Covid-19. (*/bersambung)

(Disadur : palpos.id)

Komentar

News Feed